Hikmah Dibalik Virus Corona, Nasi Anjing vs Nasi Kucing

Oleh: Roy Wijaya

(Direktur Cakrawala Institut)

Hari ini media daring heboh dengan berbagai opini kontradiksi tentang pembagian makanan kepada sejumlah warga di kawasan Jakarta Utara.

Akar masalahnya adalah pembungkus makanan tersebut bertuliskan _Nasi Anjing_ yang tentunya memicu kemarahan umat Islam sebagai bentuk pelecehan. Meski pihak pemberi sudah mengklarifikasi bahwa makanan tersebut halal dan bukan terbuat dari daging anjing sebagaimana di khawatirkan sebagian besar umat Islam, namun tetap saja tidak bisa di terima.

Mengapa harus melabelkan gambar kepala anjing? Menurut Penulis Kreatif asal Jawa Timur, Tari Abdullah menilai, alasan bahwa anjing adalah hewan yang setia sebagaimana kita harusnya juga setia kepada Tuhan, setia kepada pemerintah, tetapi tidak bisa diterima akal. Ide pemberian nama nasi anjing sebagai tandingan nasi kucing dengan porsi yang dua kali sepertinya terlalu mengada-ada.

Hati umat Islam terlanjur terluka, merasa dilecehkan, merasa terhina, meski mungkin pihak pemberi tidak bermaksud melakukan pelecehan, dan justru berniat memberikan sedekah bagi umat yang sedang beribadah puasa sebagai bentuk toleransi beragama, tetapi di tengah pandemi yang berujung pada krisis ekonomi dan kesulitan hidup ini, apapun bisa membuat sensitifitas meningkat.

Sedikit goresan saja bisa membuka luka yang dalam dan tak mudah untuk diobati hanya dengan kata maaf dan klarifikasi.

Sebenarnya bagaimana kedudukan anjing dalam Islam? Sementara saat ini juga banyak fenomena kebiasaan atau hobi memelihara anjing dikalangan masyarakat kita. Sebagai bentuk apresiasi kelucuan, kontes kekinian sampai pada kebutuhan untuk menjaga rumah.

Kebiasaan yang bermula dari orang-orang yang tidak mengenal syari’at Islam ini lambat laun diikuti juga oleh orang yang menisbahkan dirinya kepada agama Islam. Tidak diragukan bahwa Islam menyerukan rasa kasing sayang terhadap binatang.

Bahkan Allah Ta’ala menjanjikan pahala yang besar bagi orang yang berbuat baik terhadap binatang. Sebaliknya mengancam dengan ancaman besar bagi bagi orang yang menyakiti binatang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda, “Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu mengelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.” (HR. Muslim no. 2245)

Diantara hewan yang diistimewakan penyebutannya adalah anjing. Anjing adalah salah satu hewan yang disebutkan di beberapa ayat dalam Al-Qur’an. “… sedang anjing mereka menjulurkan kedua lengannya di muka pintu gua..” (QS. Al-Kahfi: 18)

Al-Imam Al Qurtubi  Rahimahullah berkata: Di dalam ayat ini bukan semata-mata anjing adalah hewan yang mulia, akan tetapi anjing pun bisa mendapatkan derajat yang tinggi karena persahabatan dan interaksinya dengan orang-orang shalih dan para wali Allah ta’ala. sehingga Allah Subhanahu Wa ta’ala pun menceritakan kisahnya di dalam Al-Qur’an.

Dan bahkan Allah  Ta’ala di dalam Al-Qur’an mengizinkan untuk menggunakan anjing untuk berburu.

“Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas (anjing) yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.” (QS. Al-Maidah :4)

Akan tetapi dari sisi lain, yang merupakan salah satu kekhususan anjing adalah malaikat tidak mau masuk kedalam rumah yang ada anjing di dalamnya.

Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata; Para ulama menyimpulkan bahwa sebab malaikat tidak mau masuk rumah yang di dalamnya ada anjing adalah:

Anjing banyak memakan najis. Begitu juga ada sebagian anjing yang dinamakan setan seperti datang dalam beberapa riwayat, sedangkan malaikat lawannya setan. Juga karena anjing memiliki bau yang tidak enak, sedangkan malaikat tidak suka bau yang tidak enak.

Yang terakhir bahwa manusia dilarang untuk memeliharanya, maka tidak masuknya malaikat rahmat ke dalam rumah, dan tidak memintakan ampun pemiliknya, maka tidak menjadikan berkah rumah tersebut adalah sebagai hukuman.

Benarkah anjing najis ?
Dalam riwayat Imam Muslim : “Sucinya bejana salah seorang diantara kalian jika anjing meminum darinya: mencucinya 7 kali yang pertama dengan tanah. dan dalam riwayat lain: jika anjing meminum bejana salah seorang diantara kalian maka hendaklah dia membuang airnya kemudian dicuci 7 kali.” (HR Muslim no.279)

Artinya Rasulullah  Shallallahu’Alaihi Wa sallam menyuruh mencuci dengan hitungan tertentu, yaitu 7 kali, bahkan harus dicuci dengan tanah, ini menunjukan bahwa liur anjing najis, dan najisnya najis yang berat atau najis mughollazoh. Dan juga dalam riwayat setelahnya diperintah untuk membuang air yang ada di dalam bejana tersebut, itu menunjukan kenajisannya.

Meskipun ada perbedaan pendapat dalam masalah najis atau tidaknya, akan tetapi semua bersepakat bahwa jika anjing meminum dari bejana, maka wajib dicuci bejana tersebut dengan cara yang telah diterangkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadist-hadistnya.

Terlepas dari sudut pandang sebagai seorang muslim, jika kita analogikan secara positif, anjing adalah binatang buas, binatang pemburu. Kita tidak pernah tahu apakah setelah mengejar hewan buruannya mulut anjing steril atau tidak. Bahkan badan dan anggota badan yang lainnya apakah tidak membawa kuman ? Maka tidak ada salahnya kita mencuci setiap wadah yang tersentuh anjing sesuai ajaran Rasulullah.

Kesetiaan anjing memang tak bisa dipungkiri. Anjing adalah sahabat manusia yang dapat diandalkan. Ingat kisah Hachiko ? Anjing yang setia menunggu tuannya sampai akhirnya mati. Dan oleh masyarakat Jepang dibuatkan monemen sebagai penghargaan atas kesetiannya. Apalagi beberapa tras anjing yang lucu dan imut mengundang gemas.

Terlepas dari semua permasalahan yang saat ini sedang memanas, di bulan Ramadhan, mari kita jaga hati agar tetap dingin. Sayang pahala puasa kita terbuang sia-sia hanya untuk menurutkan amarah.

Berpikir positif saja, mungkin pihak pemberi makanan tidak tahu bagaimana kedudukan anjing dalam Islam, karena mereka hanya memandang dari sudut pandang mereka. Maka tugas kita adalah memberi tahu dengan mensyiarkan kebenaran dengan lemah lembut bukan dengan amarah.

Jika ternyata memang ada kesengajaan sebagai bentuk usaha membuat kegaduhan, tetaplah berhusnudzon kepada Allah, dinginkan kepala dan hadapi dengan kesabaran, mungkin ini semua ujian dari Allah, ujian kesabaran, ujian ketakwaan agar Ramadhan kita lebih berkualitas.

Terlepas dari itu semua, saat ini ada masalah yang harus kita hadapi bersama dengan kepala dingin dan kelapangan dada. Masalah pandemi yang berujung pada krisis ekonomi, bukan semata tanggung jawab pemerintah, bukan semata tanggung jawab para ulama dan pemuka agama.

Di bulan penuh berkah ini bukan saatnya bersitegang karena masalah berbedaan pandangan tentang anjing, tapi bagaimana seharusnya kita bergandeng tangan bersama tanpa membedakan suku, agama, bahkan kasta, untuk mencari solusi terbaik agar pandemi segera berakhir. (***)

370 total views, 1 views today

Please follow and like us: