Ternyata Akurasi dan Percepatan Pelacakan Berbagai Penyakit (Termasuk Covid-19?), Anjing Melebihi Teknologi Moderen

Oleh : Max Umbu & Pedro Ch. Y. Nope, S.K.H

BANDUNG, 22 Mei 2020 – Tampaknya mulai saat ini anjing akan naik kelas. Akan menjadi binatang peliharaan yang lebih istimewa lagi dari sebelumnya.

Kalau sebelumnya anjing hanya dijadikan binatang peliharaan untuk berburu, penjaga rumah, hewan kesayangan dan pakan anjing pelacak (narkotika), maka sekarang anjing merupakan hewan yang paling potensial dapat menjadi solusi besar atau solusi Global bagi usaha pelacakan jenis dan sumber penyakit.

Kemampuan indera penciuman anjing dan kehandalannya mengenal jenis bau/ aroma tertentu dan sekaligus melacak rute pergerakan aromatika dan sumber penyebab bau lambang bawa inspirasi bagi para peneliti dan penemu untuk memanfaatkan potensi ini sebagai pelacak penyakit dan sumber penyakit.

Jaringan yang terinfeksi patogen melepaskan biomarker metabolik yang mudah menguap, yang menjadi bagian dari tanda tangan penyakit aroma volatil unik yang terdeteksi . Sistem sensor penciuman anjing yang sangat sensitif dapat mendeteksi beberapa zat target pada konsentrasi serendah bagian PER TRILLIUN !!

Sistem deteksi anjing secara inheren bersifat mobile dan dapat melacak bau ke sumbernya. Agar dapat dibandingkan dengan kemampuan deteksi anjing, sistem deteksi harus (1) sangat sensitif, (2) mobile, dan (3) dapat bergerak menuju sumber target. Saat ini tidak ada sistem yang memenuhi kriteria tersebut.

Jika anjing dapat dilatih untuk mendeteksi bau yang terkait dengan patogen tertentu, sistem RMST berbasis anjing dapat menyediakan metode untuk deteksi patogen di lingkungan operasional garis depan dan melengkapi pengembangan instrumentasi deteksi untuk deteksi patogen, kimia analitik, dan metabolisme.

Penelitian secara intensif telah lama dilakukan. Dan yang paling sering menggunakan jasa anjing pelacak adalah bidang keamanan : pelacakan obat terlarang ( narkotika) dan pelacakan bioterorisme.

Pelacakan terhadap jenis penyakit tertentu misalnya seperti diabetes, prostat, kanker usus, dll telah berhasil dilakukan dengan tingkat akurasi sampai mencapai 0,99 ( kemungkinan gagalnya hanya 1%). Tentu ini merupakan bio tools yang jauh lebih efektif dari alat dan teknologi canggih apa pun yang mampu dihasilkan oleh manusia saat ini, misalnya kehandalan alat kromatografi yang terlalu memakan waktu dan prasyarat serta syarat yang bukan main jelimetnya.

Akan ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi kualitas objek penelitian, yang bisa mempengaruhi bias dari hasil pengukuran di laboratorium. Misalnya teknik pengambilan sampel, tekanan kelembaban serta temperatur lingkungan dan proses pengemasan serta transportasi yang menuju ke laboratorium akan sangat menentukan kualitas objek sampel. Belum lagi biaya dan waktu pelatihan tenaga ahli kesehatan yang syarat dan ketentuannya hanya sejumlah orang tertentu yang mampu memenuhi kriteria tersebut.

Untuk jumlah kasus tertentu dengan flux volume dan frekuensi yang tidak terlalu besar dan tidak menuntut kecepatan dan percepatan hasil maka penelitian di laboratorium bisa membantu namun ketika kita diperhadapkan dengan sebuah wabah yang bersifat pademi, menyerang secara sporadis dalam waktu dan ruang yang tidak bisa terdeteksi secara luas di lapangan/ lingkungan maka memaksa para ilmuwan harus menemukan cara terbaru, yang jauh lebih efisien akurat dan tentu jauh lebih cepat serta lebih murah.

Anjing adalah solusi yang sangat menjanjikan. Ada banyak anjing yang bisa dilatih untuk memerankan fungsi pelacakan yang dimaksud. Misalnya saja anjing labrador, dll.

Kemampuan anjing yang sudah dididik dan dilatih cukup lama oleh para pelatih yang juga berpengalaman di atas 10 tahun akan menghasilkan sumber daya pelacak biologis ( anjing) yang jauh lebih fleksibel, invasif dan bersifat langsung mengambil keputusan di tempat (di lapangan). Maka jelas sekali kriteria kecepatan , ketepatan, efisiensi serta biaya murah telah dipenuhi.

Untuk memenuhi kepentingan pelacakan virus khususnya covid-19 maka yang terbaik adalah bagaimana memfungsikan anjing-anjing yang terlebih dahulu telah terlatih untuk melacak narkotika. Pihak kepolisian dan beberapa organisasi tertentu telah memiliki jumlah yang cukup untuk membantu usaha yang lebih serius dan efektif, terstruktur dan masif untuk melacak keberadaan sumber virus (baik pasien positif maupun orang tanpa gejala/ OTG).

Kemampuan anjing untuk mengendus pasien tanpa gejala adalah nilai lebih yang tidak bisa ditandingi oleh alat laboratorium moderen apa pun.

Mungkin sebagian dari kita bertanya-tanya bagaimana ini mungkin ?. Saya akan coba menjelaskan bahasa sains itu dengan menggunakan bahasa populer agar lebih muda dimengerti.

Setiap penyakit memiliki mekanisme reaksi kimia biologi kita sendiri di dalam sel. Dan untuk itu membutuhkan jenis materi tertentu. Dan setiap reaksi materi tertentu tersebut di atas akan menghasilkan ciri atau tipikal reaksi tertentu yang menghasilkan output reaksi tertentu pula. Salah satunya adalah aromatika/ bau, aroma ketiak inilah yang akan menghasilkan gelombang bau dengan frekuensi/ panjang gelombang tertentu yang dapat ditangkap oleh indra penciuman anjing yang telah terlatih/ dibiasakan untuk mengenali bau tersebut.

Misalnya saja sakit ginjal cenderung pasien akan mengeluarkan aroma berbau nitrogen dari mulut ataupun kulit. Anjing juga dapat melacak aroma dari penyakit yang keluar dari tubuh manusia seperti feses (tinja).

Saya pikir adalah kebutuhan yang terlalu amat mendesak bagi kita sekarang untuk sesegera mungkin memanfaatkan potensi dari para “Serdadu anjing pelacak: guna membangun Spirit perlawanan terhadap berbagai penyakit , dan khususnya untuk penyakit yang bersifat pandemik seperti virus Covif-19.

Pengembangan teknologi patogen penginderaan seluler (RMST) real-time yang mudah digunakan akan berguna dalam keamanan perbatasan, kesehatan masyarakat, pengelolaan satwa liar, dan pertanian untuk membantu dalam mendeteksi dan mengendalikan wabah penyakit dan untuk mencegah tindakan bioterorisme dan agro terorisme.

Kemampuan anjing terlatih untuk mengidentifikasi bau yang terkait dengan bahan peledak dan amunisi di lingkungan operasional lebih unggul daripada teknologi deteksi lain yang tersedia saat ini.

Saya rasa memposisikan anjing sebagai serdadu perang (dunia Global sedang berperang melawan Covid-19) yang potensial dan efektif untuk melawan musuh yang tidak kelihatan akan menjadi teramat penting.

Kemungkinan kita akan membutuhkan Serdadu anjing lebih dari satu pleton untuk bisa mengcover area yang begitu luas dan jumlah target koperasi yang juga sangat banyak dan variatif. Pada intinya sudah saatnya kita membangun korps anjing pelacak khusus untuk melacak penyakit, termasuk bioterorisme. Tentu kita juga membutuhkan sumber daya manusia pelatih berpengalaman. Institusi pendidikan berpeluang untuk membuka mata kuliah dan praktek khusus di bidang ini karena jelas pasar sangat membutuhkan. Dan lebih jauh saya pikir ini dapat menjadi komoditas ekspor (Sumber devisa baru).

Untuk menjawab tuntutan dan tantangan baru ini sudah selayaknya pemerintah dan politisi dapat menyusun langka nyata untuk membuat regulasi (UU & aturan pelaksanaannya). Dunia swasta tentu akan menangkap peluang itu sebagai peluang usaha yang akan saling menguntungkan.

Infeksi virus ada di mana-mana pada manusia, hewan, dan tumbuhan. Metode waktu nyata untuk mengidentifikasi infeksi virus terbatas dan tidak ada untuk digunakan di lingkungan yang keras atau terbatas sumber daya. Penelitian sebelumnya mengidentifikasi bahwa jaringan menghasilkan senyawa organik volatil unik dan menunjukkan bahwa konsentrasi volatil unik berubah selama keadaan patologis, termasuk infeksi, neoplasia, atau penyakit metabolisme.

Berikut sajian tentang beberapa percobaan yang telah dilakukan. Pola ekspresi aroma volatil unik mungkin spesifik patogen dan dapat dikaitkan dengan bau yang dapat digunakan untuk deteksi penyakit. Sebagai contoh apa yang telah dilakukan ketika menguji kemampuan dua ekor anjing terlatih untuk mendeteksi kultur sel yang terinfeksi dengan virus diare virus bovine (BVDV) dan untuk membedakan kultur sel yang terinfeksi BVDV dari kultur sel yang tidak terinfeksi dan dari kultur sel yang terinfeksi dengan virus herpes bovine 1 (BHV 1) dan bovine parainfluenza virus 3 (BPIV 3).

Anjing dilatih untuk mengenali kultur sel yang terinfeksi dengan dua biotipe berbeda dari BVDV yang diperbanyak dalam sel ginjal sapi Madin-Darby menggunakan salah satu dari tiga media kultur. Untuk uji deteksi, satu target dan tujuh distraktor dipresentasikan pada roda aroma oleh pawang anjing yang tidak mengetahui lokasi target dan distraktor. Deteksi kultur sel yang terinfeksi BVDV oleh Dog 1 memiliki sensitivitas diagnostik 0,850 (95% CI: 0,701-0,942), yang lebih rendah dari Dog 2 (0,967, 95% CI: 0,837-0,994).

Kedua anjing menunjukkan spesifisitas diagnostik yang sangat tinggi (0,981, 95% CI: 0,960-0,993) dan (0,993, 95% CI: 0,975-0,999), masing-masing.

Temuan ini menunjukkan bahwa anjing yang terlatih dapat membedakan antara sel-sel yang dikultur yang terinfeksi BVDV, BHV1, dan BPIV3 dan merupakan teknologi penginderaan seluler bergerak real-time yang realistis untuk patogen virus.

Kemampuan untuk membedakan antara sampel target dan distractor masuk akal hasil dari ekspresi pola Volatil unik dalam sel yang terinfeksi virus dan yang tidak terinfeksi.(*)

906 total views, 4 views today

Please follow and like us: